Main Menu

Assign modules on offcanvas module position to make them visible in the sidebar.

Our school

 SMA PEMBANGUNAN JAYA
 Sidoarjo

Dampak dari pandemi COVID-19 menjadi dasar perubahan kebijakan pemerintah Indonesia terutama pada sektor kesehatan. Salah satu kebijakan tersebut adalah pembentukan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 melalui Keputusan Presiden Nomor 7 Tahun 2020 tanggal 13 Maret 2020. Langkah pemerintah dalam penanganan COVID-19 dinilai sudah cukup baik, namun alangkah lebih baik jika seimbang dengan upaya penanggulangan HIV AIDS yang juga merupakan masalah penting dan global.

Sama halnya dengan pemanfaatan teknologi informasi untuk skrining mandiri gejala dan pemetaan kasus COVID-19, pemanfaatan teknologi digital ini juga dapat diterapkan untuk membantu dalam program penanggulangan HIV AIDS. Misalnya, untuk edukasi dan skrining mandiri deteksi gejala HIV AIDS, serta pengembangan aplikasi berbasis mobile untuk pemetaan kasus yang memudahkan petugas lapangan atau LSM dalam melakukan upaya penjangkauan dan pendampingan ART pada masa pandemi COVID-19 ini. 

Adanya kebijakan pembatasan sosial di masa pandemi COVID-19 juga menjadi dilema tersendiri bagi upaya penanggulangan HIV AIDS. Selain stigma dan upaya pencegahan melalui penggunaan kondom, ada masalah dilematis yang muncul selama pandemi COVID-19, antara lain:

1) Kurang optimalnya sosialisasi dan edukasi pencegahan HIV AIDS yang biasanya dilakukan secara massal dengan keterbatasan media edukasi digital;

2) Penundaan pelaksanaan mobile VCT atau tes HIV pada populasi berisiko, dikarenakan sumber daya yang terbatas dan dialihkan untuk penanggulangan COVID-19; serta

3) Keterbatasan akses antiretroviral therapy (ART) dan risiko kerentanan ODHIV atau ODHA yang lebih besar terinfeksi COVID-19.

Tanpa atau dengan adanya pandemi COVID-19, persoalan HIV AIDS ini bagaikan bom waktu yang dapat meledak kapanpun. Estimasi infeksi baru HIV setiap tahun sebanyak 46.000 kasus. Oleh sebab itu, hal ini perlu mendapat perhatian khusus, serta diperlukan langkah-langkah yang konkret untuk menurunkan jumlah insiden infeksi HIV baru terutama pada populasi berisiko di kelompok usia muda. Menurut Centers for Disease Control and Prevention, program kesehatan sekolah dapat membantu remaja mengadopsi sikap dan perilaku seumur hidup yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan mereka, termasuk perilaku yang dapat mengurangi risiko penularan HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS) lainnya.

Untuk itulah SMA Pembangunan Jaya bekerjasama dengan Parpras (Paguyuban Remaja Peduli HIV/AIDS Sidoarjo) untuk mengadakan Pamong Bersama secara virtual membahas terkait dengan "Remaja, HIV/AIDS & Pandemi COVID-19. Hadir dalam kegiatan ini Kak Denaya Abhimana dan Kak Kristian selaku Duta Peduli HIV/AIDS 2019 Kabupaten Sidoarjo. Mereka mengedukasi siswa SMA Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo agar menjauhi narkoba dan sex bebas sebagai awal mula penyebaran HIV/AIDS. 

Back to top