
Kesimpulan Dialog Lintas Agama:
Kelima narasumber dialog lintas agama kali ini sungguh telah berubah menjadi pujangga
Pujangga yang siap menyusun syair-syair perdamaian dengan lirik keyakinan masing-masing, tanpa ada yang merasa pusing
Suara yang terdengar dalam dialog ini bukan lagi membicarakan kebenaran, melainkan berubah menjadi forum kebijaksanaan.
Mungkin seseorang bisa menjadi filsuf karena mencintai kebijaksanaan, namun kita bisa menjadi bijak karena kita mencintai perbedaan keyakinan.
Lalu sekarang mungkin muncul pertanyaan;
Jika semua agama mengajarkan perdamaian, lantas mengapa masih ada konflik yang terjadi mengatasnamakan agama?
Tentu Jawabannya adalah
Ajarannya tidak pernah bermasalah.
Yang sering bermasalah adalah cara manusia memahaminya.
Ketika agama berhenti menjadi nilai, lalu berubah menjadi identitas.
Ketika pesan kasih kalah dengan ego yang membuat risih.
Ketika semangat rahmat diganti dengan semangat merasa paling benar.
Maka yang terjadi bukan lagi perdamaian, tetapi pembenaran.
Agama bukan lagi tentang siapa yang paling mayoritas apalagi yang paling nyaring dan keras suaranya
Agama adalah tentang bagaimana kita bisa menebar cinta kasih dengan sesama, cinta kasih yang tak lagi pasif, tapi juga aktif. Dengan harapan Sarwe Bhawantu Sukhinah atau juga dengan keyakinan Shebbe Satta Bhawantu Sukitata, sehingga kita bisa menebar cinta yang rahmatan lil alamin.
Karena kata Gusdur; Hanya orang bijaksana, yang berani berkata, bahwa Tuhan tidak perlu dibela.
