Main Menu

Assign modules on offcanvas module position to make them visible in the sidebar.

Our school

 SMA PEMBANGUNAN JAYA
 Sidoarjo

Tulisan ini berawal dari pengalaman pribadi penulis terhadap generasi Stroberi—generasi yang mudah putus asa dan galau. Hmm. Sebagian remaja di zaman now ini benci puisi. Apa sih puisi tuh! Gak ada gunanya! (dan berbagai komentar lainnya). Generasi zaman now ternyata lebih suka “karya seni” zaman now juga. Bentuk-bentuk klasik seperti buku puisi akan kurang diminati. Mereka akan bosan dengan buku “Aku” karya Chairil Anwar di perpustakaan, apalagi kalau bukunya berdebu dan kertasnya kuning. Kesannya kuno banget!

Berdasarkan pengamatan penulis, ternyata generasi sekarang tidak benar-benar membenci puisi lho. Kita bisa lihat Rupi Kaur, salah satu penulis Insta-Poetry kekinian yang bukunya, Milk and Honey, telah menduduki jajaran buku New York Times Best Seller. Ia bersama puisi-Insta-nya telah memiliki follower 3,8 juta. Tulisan-tulisan yang di-post di IG-nya memang singkat-padat, khas puisi Instagram. Diberikan bumbu background yang mendukung, tulisan-tulisan itu tampak jauh lebih hidup.

Bagaimana keadaannya di Indonesia? Fenomenanya hampir sama! Banyak sekali nama-nama baru yang kemudian kita kenal sebagai penulis lahir dari dunia virtual. Untuk menyebut beberapa nama ada Helo Bagas, Rintik Sedu, Fiksionalisme, dan Panji Ramdana. Pertanyaan kita selanjutnya, kira-kira apa sih rahasianya agar sastra kita eksis di dunia kekinian?

Penyebaran virus literasi di zaman kekinian itu sebetulnya sangat mudah. Hal itu ditunjukkan oleh LIoyd (2019) bahwa hanya butuh waktu empat minggu untuk menarik follower sebanyak 646 pengikut pencinta puisi-Insta. Ia juga menerangkan tips agar akun literasi cepat menjadi hits. Tips tersebut antara lain: (1) pakailah nama yang unik, dan (2) rutin nge-post. Hingga satu bulan lamanya, LIoyd telah mengunggah sebanyak 100 puisi berisi ilustrasi yang bisa menambah “nilai rasa” dari puisi tersebut.

Belajar dari LIoyd, saya—secara pribadi sebagai guru bahasa Indonesia—beranggapan bahwa sesungguhnya, proses mengenalkan puisi legendaris seperti karyanya Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Widji Tukul, atau penyair lainnya, ternyata sangat mudah. Kita hanya butuh menyesuaikan bentuk lama (buku/kertas), menjadi bentuk baru yang lebih diterima oleh kaum milenial.

Kita ambil contoh pemilik akun Instagram Ria Anggara, misalnya. Di dalam akun tersebut kita bisa menemukan banyak video narasi puitis yang bagus. Perpaduan antara ilustrasi, puisi, dan lagu latar ternyata menciptakan efek besar.

Tidak sedikit akun-akun berisi narasi puisi memiliki follower IG yang sangat banyak, seperti Ria Lestari, dan Helo Bagas. Dari situ, mereka mendapatkan keuntungan batin bahkan keuntungan finansial. Alih-alih sebagai media berekspresi sesaat, kumpulan video atau kutipan puisi dengan desain yang menarik dapat menjadi modal untuk berwirausaha. Puisi ternyata dapat “dijual” dengan sajian yang lebih menarik, seperti video narasi, kaus puitis, atau Casing  HP. Adapun bagi pembaca, tentu akan melihat puisi jauh lebih estetis, ketika mendapatinya dalam bentuk lain yang lebih kekinian, seperti pajangan dinding disertai ornamen indah untuk diletakkan di ruang tamu.

Pada kesempatan kali ini, penulis menawarkan suatu cara alternatif, untuk mengenalkan puisi legendaris kepada generasi milenial. Hal itu didasarkan pada anggapan penulis bahwa inilah momen yang tepat. Inilah waktu yang pas. Inilah saatnya kebangkitan dunia perpuisian kita, dengan bentuk-bentuk yang lebih estetis dan lebih berterima! Inilah bentuk-bentuk puisi di era kekinian!

1.    Bentuk yang Pertama: Video Narasi

Bayangkan, puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono disajikan dalam bentuk video suasana sehabis hujan dengan pohon dedaunan hijau yang dibasahi sisa air hujan menetes-netes diiringi lagu latar yang sendu. Hmm, kerasa banget kan? Video narasi menjadi alternatif bentuk puisi yang pertama. Penulis terinspirasi oleh akun Instagram Ria Anggara yang konsisten membuat video narasi berisi kata-kata puitis. Dalam suatu wawancara penulis, Anggara (2019) pernah menyebutkan bahwa penonton terbanyak yang pernah ia dapat dalam satu video narasi adalah 20.000 viewer. Secara tidak langsung, Ria Anggara telah mengenalkan satu puisi manis ke hadapan penonton sebanyak itu!

 

 

2.    Bentuk yang Kedua: Kaus Puitis

Sekarang, puisi bukan hanya dalam bentuk buku. Puisi sekarang bisa dibawa ke mana-mana untuk mejeng atau jalan-jalan bersama pacar. Sekarang, puisi bisa “dimuat” dalam bentuk kaus keren, seperti yang dilakukan oleh Buku Akik. Disertai ilustrasi wajah penulisnya, kutipan puisi didesain dengan font menarik, dan tata letak yang pas. Tidak perlu panjang-panjang. Cukup beberapa kutipan saja, kita sudah ikut mengenalkan puisi kepada generasi milenial, dan menjadikannya tampak lebih kekinian.

 

3.    Bentuk yang Ketiga: Casing HP

Untuk bentuk yang ketiga ini, kita bisa mencoba menjadi pionir dengan membentuk usaha yang keren dan intelek ini. Jadi, saya punya ide kalau puisi ternyata bisa “ditempel” di Casing  HP. Perpaduan font, tipografi, dan warna yang pas akan membuat milenial semakin PD menggunakan Casing  HP bertuliskan kata-kata puitis. Kita bisa mengutip kata-katanya Joko Pinurbo, Taufik Ismail, atau WS Rendra. Dari sini, ternyata kita tidak hanya jualan Casing  HP, tapi secara tidak langsung kita juga ikut menyebarkan virus literasi dalam produk-produk yang kece.

 

 

 

 

 

 

4.    Bentuk yang Keempat: Pajangan Dinding Eksotik

Bentuk yang terakhir ini berupa pajangan dinding semacam poster berbingkai. Dekorasi pajangan dinding dengan kata-kata puitis menjadi pilihan menarik, khususnya bagi pemilik kafe atau pengelola perpustakaan. Hal itu karena desain yang ditawarkan dapat menambah nuansa estetik, literat, dan mampu membawa kita ke dalam suasana akrab dengan kata-kata. Konsep dasar desain ini sederhana: cukup desain di atas kertas A3, lalu dibingkai dengan kayu terkesan klasik. Desain dapat berisi ilustrasi pemandangan atau gambar abstrak, kemudian diberikan kata-kata puitis karya penyair Indonesia.

Dengan demikian, itulah bentuk-bentuk yang dapat dipilih oleh penggerak sastra Indonesia, yang ingin memperkenalkan sastra, khususnya puisi, kepada “generasi serba medsos” saat ini. Banyak pilihan yang disediakan, mulai dari video, kaus, Casing  HP, dan pajangan dinding. Pemanfaatan media baru tersebut bukan hanya semata-mata untuk eksplorasi nilai seni, tetapi juga sebagai dasar pengembangan keterampilan berwirausaha, yang tentunya akan bermanfaat bagi banyak orang. Sekian, terima kasih!

Daftar Pustaka

 

LIoyd, Andrew. 2019. “Aku Berlagak Jadi Penyair di Instagram, Ternyata Gampang Mempopulerkan Akun Begituan”, (Online), vice.com, (diakses pada Sabtu, 09 November 2019).

­­­­­­

Anggara, Ria. 2019. WawancaraNarasi Puisi di Instagram”, (Online), via Whatsapp, (dilakukan pada Sabtu, 09 November 2019).

 

 

 

 

 

 

 

Biodata Penulis

Mochamad Gigih Pebrianto. Alumnus Universitas Trunojoyo Madura (2018). Telah memenangkan beberapa perlombaan menulis, di antaranya juara 1 lomba menulis cerita pendek tingkat Madura oleh LPM Spirit Mahasiswa (2017), juara 1 lomba menulis cerita pendek tingkat Jawa Timur oleh STKIP PGRI Jombang (2017), dan juara 2 lomba menulis proses kreatif tingkat nasional oleh Tulis.Me (2018).  Saat ini mendedikasikan sebagian waktunya di SMA Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo sebagai guru bahasa Indonesia. Dapat dihubungi melalui pos-el This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it., nomor HP 085104014875, atau Instagram Mochamad Gigih Pebrianto.

Back to top